“Bola”, Tulisanku di Gado-Gado

Temans, adakah yang suka membaca artikel Gado-Gado di Femina?
Berikut ini saya adalah salah satu tulisan saya yang dimuat di rubrik Gado-Gado. Tapi yang ini versi aslinya. Tulisan yang belum diubah sama Mbak editornya. 🙂
Tulisan ini bercerita saat bola Ihsan diakui seorang anak yang umurnya jauh lebih besar darinya.
Baca, yuk…!

image

Itu Milikku!
Oleh Anisa Widiyarti

Cukup lama kami menangis berdua sambil berpelukan. Biarlah. Saya sedang menangisi kelemahan saya sebagai seorang ibu yang tak bisa membela anaknya.

Bermain merupakan aktivitas yang umum dilakukan oleh anak-anak. Dan sebagai orang tua, yang bisa dilakukan selain mendampingi mereka saat bermain, tentu saja dengan membelikan mainan itu sendiri.
Entah sudah berapa kali, sampai tak terhitung. Namun anak tak pernah bosan meminta dibelikan mainan. Sementara sebagai orang tua, kita sudah begitu bosan membelikan mereka mainan.
Tapi membelikan mainan pada anak, memang sesuatu yang mau tak mau harus dilakukan. Apapun bentuknya. Meski memang tak harus yang mahal.
Sebagai seorang ibu, saya terbiasa mengecek kotak mainan milik anak. Saya akan menanyakan pada Ihsan, anak saya, jika ada mainan yang tiba-tiba ada di rumah, sedang saya tak merasa membelikannya.
Pernah suatu saat, saya menemukan ada tiga bis kecil berwarna merah, hijau dan biru di kotak mainan. Saya tak pernah merasa membelikannya. Maka seketika itu juga saya menanyakan dari mana asalnya ketiga mainan itu.
“Dibeliin Abi…” jawabnya dengan wajah ketakutan.
“Kapan belinya? Kok, Ummi nggak tahu?” cecar saya.
Mungkin karena takut, sehingga Ihsan diam saja. Tapi kediamannya itu malah membuat saya curiga. Saya khawatir jika ternyata dia mengambil mainan milik temannya.
Syukurlah, semuanya terpecahkan saat suami pulang. Menurut penjelasannya, ternyata memang benar mainan itu dibelikan olehnya. Mereka membelinya saat berkeliling sore berdua dengan motor.
Ah, ya. Saya baru ingat. Sore kemarin saya memang tak ikut berkeliling naik motor karena pekerjaan rumah yang belum selesai. Dan ternyata, saat itulah mainan itu dibeli.
“Tuh, kan, aku nggak bohong,” ucap Ihsan dengan memelas.
Saya langsung menghampiri dan memeluknya. “Maaf ya, tadi Ummi nggak percaya sama Ihsan,” kata saya tulus.
Ya, memang saya yang bersalah. Bagaimana mungkin saya tak mempercayai buah hati sendiri? Bagaimana mungkin saya memikirkan hal yang buruk padanya?
Ah, tapi tentu saja saya memang harus tetap mengawasinya. Dia harus tetap mengetahui apa yang merupakan miliknya, dan apa yang bukan miliknya.
Dalam pikiran saya, pasti semua orang tua juga mengajarkan hal seperti itu pada anaknya, kan? Dan begitu pula dengan Ihsan. Dia menganggap semua anak diajarkan seperti dirinya.
Maka betapa kagetnya Ihsan, saat dia meninggalkan bola di halaman, lalu beberapa saat kemudian ada anak yang mengakuinya.
Saya membelanya. Tentu saja. Saya yang membelikan bola itu. Sehingga saya yakin itu memang miliknya.
Tapi anak yang mengakui bola itu, tetap mengatakan kalau benda itu miliknya.
Saya mencoba menjelaskan, bahwa benda itu tadi digunakan Ihsan untuk bermain di halaman. Saya berkali-kali mencoba meyakinkan, bahwa bola itu memang milik Ihsan.
Sampai akhirnya, tante anak itu mengatakan bahwa bola itu memang baru dibawa oleh keponakannya. Setidaknya, itu sudah sangat meyakinkan kalau bola yang menjadi masalah itu bukan milik si anak.
Tapi yang tak habis saya pikir, ketika ibu si anak malah diam saja melihat kejadian ini. Bahkan, ketika akhirnya si anak menangisi bola itu, si ibu malah terkesan menyalahkan.
“Yaaah, jadi nangis, deh.”
Saya mengerutkan kening. Kenapa memangnya kalau ada anak yang menangis? Bukankah mereka tetap harus diajarkan mana yang benar dan mana yang salah?
Padahal anak itu berusia sebelas tahun. Sementara Ihsan berusia empat tahun. Apakah karena anak itu menangis, tiba-tiba kita harus mengasihani dan membenarkan semua yang dilakukannya?
Akhirnya, saya menggandeng tangan Ihsan. Memaksanya untuk pulang. Percuma menurut saya, berbicara pada orang yang tak memiliki kesamaan pandangan.
Ihsan menangis, meronta. Dia terus menjerit, mengatakan bahwa bola itu miliknya.
Sesampainya di dalam rumah, saya hanya bisa memeluknya. Saya bahkan ikut menangis bersamanya. Bukan menangisi bola yang diakui temannya, tapi menangisi ketidakberdayaan saya untuk membela Ihsan. Padahal saya tahu, dia di pihak yang benar.
Cukup lama kami menangis berdua sambil berpelukan. Kalau ada yang melihatnya, mungkin orang itu akan tertawa. Biarlah. Saya sedang menangisi kelemahan saya sebagai seorang ibu yang tak bisa membela anaknya.
Saat tangisan Ihsan mereda, saya meminta maaf padanya. Saya memintanya untuk mengikhlaskan bola itu. Sebagai gantinya, saya berjanji akan membelikannya bola yang baru.
“Tapi itu bola Ihsan, Mi…” ucapnya lirih.
“Ya, Ummi tahu. Tapi bola itu sudah jelek. Biar aja itu diambil dia. Kita beli yang baru, ya…” bujuk saya.
Ihsan terdiam cukup lama. Sampai akhirnya, dia mengangguk.
“Dia nggak punya uang buat beli bola ya, Mi?” tanyanya kemudian.
Saya tersenyum. “Ya, bisa jadi. Makanya, bola itu buat dia, kita beli yang baru aja, ya.”
Ihsan mengangguk, tanda mengerti. Tapi kemudian, ada satu pertanyaan darinya yang tak bisa saya jawab.
“Kalau dia nggak beli, kenapa dia bilang itu bolanya? Kalau mamanya nggak beliin, kenapa malah belain dia?”
Saya hanya bisa terdiam.
Entahlah. Mungkin, ini artinya tak semua orang tua mengajarkan pada anaknya, apa yang menjadi miliknya, dan apa yang bukan miliknya.
=0=

2 responses to ““Bola”, Tulisanku di Gado-Gado

  1. Wah, saya ikut mrebes mili membacanya, mbak. Dilema kepengasuhan sepergi itu memang sering membuat simalakama.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s