“Cinta” di Rubrik Gado-Gado Femina No. 35

Temans, yang penasaran dengan tulisan saya di artikel Gado-Gado Femina No. 35, berikut ini saya copykan. Tapi, ini versi aslinya, ya.
Semoga setelah membaca tulisan ini, ada hikmah dan pelajaran yang bisa diambil. Karena tulisan ini berisi peristiwa yang hampir merenggut nyawa saya dan Arkaan, anak saya. Peristiwa ini juga membuat saya trauma selama hampir 3 bulan.
Silakan dibaca…

image

Karena Cinta
Oleh Anisa Widiyarti

Saat saya mencabut rumput, tiba-tiba lantai yang saya injak amblas. Saya dan anak saya tenggelam ke dalam septictank.

Hidup dan mati manusia memang hanya Tuhan yang tahu. Itulah hal yang selalu saya yakini. Siapa yang menyangka, setelah bangun dari tidur siang yang nyaman, saya bisa mengalami musibah yang hampir merenggut nyawa.
Sore itu, langit tampak cerah. matahari yang sejak pagi tertutup awan mendung, kembali menampakkan sinarnya. Tentu saja saya tak ingin menyia-nyiakannya. Bergegas saya ke teras belakang untuk mengeluarkan jemuran yang sudah dua hari tak kering.
Saat itu, Arkaan, anak kedua saya terbangun. Dia menangis dan mencari saya. Maka untuk menghentikan tangisnya, saya pun menggendongnya.
Biasanya, saya hanya menggendongnya dengan satu tangan. Tapi sore itu, saya menggendongnya dengan gendongan. Keputusan yang begitu saya syukuri pada akhirnya nanti.
Maka saya pun mulai mengeluarkan jemuran sambil menggendong Arkaan. Selesai dengan jemuran, saya memandangi teras belakang yang mulai ditumbuhi rumput.
Hujan terus menerus memang membuat saya tak bisa membersihkan teras belakang. Maklum, teras belakang tak diberi atap, hanya pagar tembok saja yang mengelilinginya.
Di sinilah peristiwa mengerikan itu bermula. Saat saya mencabut rumput, tiba-tiba lantai yang saya injak amblas. Saya dan anak saya tenggelam ke dalam septictank.
Saat tenggelam dan air kotor terminum, saya sempat berucap di dalam hati, “aduh, mati deh,”. Saya pasrah. Saya tak bisa berenang, sementara septictank itu cukup dalam.
Tapi tiba-tiba saya merasakan kepala yang bergerak-gerak di dada. Sedetik kemudian saya langsung tersadar. Arkaan ikut tenggelam.
Maka demi dia, saya kuatkan diri. Kaki saya menendang-nendang, tangan saya berusaha menggapai.
Saat kepala kami berdua berhasil berada di atas air, saya langsung melebarkan kaki. Saya jejakkan kaki pada dinding septictank. Lalu dengan sekuat tenaga, saya berteriak meminta tolong.
Entah pada teriakan ke berapa, ibu tetangga sebelah menghampiri.
“Ada apa?” tanyanya dari balik tembok.
“Tolong, saya tercebur. Arkaan juga,” jawab saya.
Hening.
Sepertinya si ibu bingung, saya tercebur di mana. Maka, ketika dia berhasil memanjat tembok dan melongok, si ibu langsung berteriak histeris.
“Astaghfirullah…! tolong… tolong…! Pak, lompat aja!”
Seketika itu, seorang bapak melompat masuk. Sungguh, hati saya tak pernah sebahagia itu melihat beliau.
“Tangga… cari tangga!” teriak si bapak saat melihat keadaan saya dan Arkaan.
“Tolong Arkaan dulu, Pak,” pinta saya.
Si bapak langsung mengulurkan tangannya untuk mengangkat Arkaan. Baru pada saat itulah Arkaan menangis ketakutan.
Satu tangga diulurkan tetangga dari luar, tapi tangga itu pendek. Jadi si bapak hanya meletakkannya di atas lubang septictank.
“Cari yang panjang!” teriaknya.
Satu tangga lagi diulurkan. Saat itu pula, ibu tetangga sebelah sudah berhasil melompat tembok.
“Wah, masih kurang panjang,” kata si bapak.
“Pak, kalau nggak cepat, keburu tanah yang saya injak amblas,” kata saya gemetar.
“Kalau begitu, pegang tangga ini. Terus berusaha naik. Biar saya sama bapak ini yang menahan tangganya,” kata ibu tetangga sebelah.
Maka saya pun menurut. Tangga saya pegang erat. Lalu dengan sekuat tenaga, saya mencoba naik.
Saat sudah berada di atas, saya langsung menggendong Arkaan. Mencoba menenangkannya.
Malam hari setelah kejadian itu, saya tak bisa tidur. Sekujur badan saya terasa sakit. Berkali-kali pula, saya teringat kejadian mengerikan itu.
Setiap saya teringat, setiap itu pula saya memeluk dan menciumi Arkaan. Syukur dan terima kasih atas perlindunganNya, tak henti-hentinya saya ucapkan.
Saya merenung. Jika bukan karena cinta saya pada Arkaan, tak mungkin saya bisa begitu kuat berjuang. Jika bukan karena cinta dan hubungan baik yang terus dijaga, tak mungkin para tetangga berdatangan membantu. Dan jika bukan karena cintaNya, mustahil saya dan Arkaan masih bisa hidup.
Karena cinta, saya dan anak saya masih hidup hingga detik ini
=♥♥♥=

26 responses to ““Cinta” di Rubrik Gado-Gado Femina No. 35

  1. *melting* terima kasih mak. Cerita ini bisa menguatkan hati para emak(s) untuk terus menyayangi sang buah hati.

  2. Subhanallah….mak, kita memang gak pernah tau kapan musibah akan terjadi.
    detik ini saya, mak dan kamu iya mak sedang ngebaca komen ini juga gak tau apa yang nanti akan terjadi di detik…menit, jam, hari berikutnya.
    Alhamdulillah, semua ini jadi pelajaran berharga buat kita smua mak…sehat2 semuanya ya mak Anisa Widiyarti 🙂

  3. duuh…ikutan deg2an bacanya…saya gak bisa bayangin jika ini terjadi pada saya mak…saya juga gak bisa berenang…hiks. btw, selamat ya…saya juga kemarin dimuat gado2 edisi 36…

  4. Alhamdulillah .. kekuatan cinta berbuah manis …

  5. Semua memang karena cinta ya mbak…

  6. hebat mbak bisa masuk ke femina

  7. Astagfirullah, Mbak…saya baru baca, gak nyangka ini bener2 kejadian nyata. Semoga semua baik-baik saja. Dek Arkaan sehat selalu yaa

  8. Walah.mbak…ngeri saya membayangkannya..untunglah selamat ya…salam buat Arkaan…

  9. Masya Allah, Mbak. Btw, Gado-Gado bisa kisah haru juga, ya. Image-nya yang lucu2 🙂

    • Bisa, Mbak Aan. Beberapa tulisan saya yang dimuat di Gado-Gado adalah kisah haru.
      Tulisan tersebut juga saya upload di blog ini. Silakan kalau ingin membacanya. 🙂

  10. Alhamdulillah…pertolongan Allah yang tak terduga malah yang sering menyelamatkan kita ya…

  11. Tegang bacanya mak…ya Allah…alhamdulillah bs selamat ya mak. The power of love yaa..

  12. Ping-balik: Jejak Tulisan di 2014 | Anisa Widiyarti Blog

  13. astarfirullah, uni baru baca ini.. dan sungguh heran, kenapa bisa jeblos itu tanah ya anisa? pastilah trauma banget itu ya… semoga arkaan juga gak trauma..:(

    • Kami kan beli rumah jadi, Uni. Rumahnya sudah cukup lama, dan sepertinya itu cuma ditutup kayu terus dipelur aja, jadi gak kuat. Makanya setelah kejadian kemarin itu langsung dipasangi besi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s