“Sabar”, Tulisan Saya di Rubrik Gado-Gado

Masih tentang tulisan saya yang dimuat di rubrik Gado-Gado.
Berikut ini adalah artikel yang berjudul “Bukan Penitipan Anak”, namun diganti judulnya oleh editor menjadi “Sabar”.
Tulisan ini tentang suatu kejadian yang saya lihat saat berada di suatu pusat perbelanjaan. Kejadian yang hingga kini, masih membuat saya ingin menangis jika mengingatnya.
Oh ya, berikut ini adalah tulisan versi aslinya. Silakan dibaca… 🙂

image

Bukan Penitipan Anak
Oleh Anisa Widiyarti

Si ibu menampar anaknya dengan sendal sebanyak dua kali! Kami semua terdiam. Hanya tangisan si anak yang langsung pecah.

“Jangan, itu punyaku!” teriak seorang anak saat Ihsan – anak saya – memegang sebuah otopet. Ihsan hanya bisa terdiam, menyaksikan mainan yang dipegangnya direbut anak itu.
Seingat saya, ini sudah yang ketiga kalinya anak laki-laki berusia empat tahun itu merebut mainan yang Ihsan pegang.
“Mana ya, orang tuanya?” gumam saya sambil melihat ke sekeliling. Tapi saya tak melihat seorang ibu ataupun bapak yang tampak menunggui anaknya.
Siang itu, saya dan Ihsan sedang berada di salah satu mall di bilangan Depok. Ada sesuatu yang harus dibeli. Sayangnya, saat hendak pulang, Ihsan melihat arena bermain dan langsung merengek untuk memasukinya.
Di arena bermain ini, anak-anak bisa bermain sepuasnya. Dengan membayar sebesar Rp. 25.000,- mereka bisa memainkan apa saja yang ada di dalamnya.
Mungkin karena bukan hari libur, jadi tak banyak anak yang bermain. Selama sekitar lima belas menit, hanya ada Ihsan  dan anak laki-laki tadi.
Saya mencoba mengalihkan perhatian Ihsan ke permainan yang lain, seperti perosotan dan mandi bola. Syukurnya, Ihsan cukup senang dengan dua permainan itu. Habis mau bagaimana lagi? Bola basket yang terakhir dipegang Ihsan pun, sukses direbut anak itu.
Kalau boleh jujur, ada rasa kesal yang menyelinap di hati saya. Beberapa kali saya mencoba menasehati anak itu.
“Jangan begitu, mainnya bareng-bareng, ya,” ucap saya mencoba memberi pengertian. Tapi sepertinya anak itu tak mempedulikan.
Saya jadi bertambah kesal, ketika anak itu beberapa kali menendang bola ke arah saya. Tapi tentu tak saya tunjukkan padanya.
“Nendangnya ke sana,” kata saya sambil menunjuk ke gawang kecil.
Bukannya menendang ke gawang, anak itu malah menendang ke arah saya lagi. “Mainan, yuk!” ajaknya.
Lho, dia mengajak saya bermain?
Saya mencoba mengikuti kemauannya. Beberapa kali, saya menendang ke gawang kecil, sembari mengajarkannya bagaimana bermain yang benar.
Tapi tentu tak bisa terus menerus. Saya harus menjaga Ihsan agar tak terjatuh, dan tentu hal itu yang lebih penting.
Melihat saya yang tak mau terus menerus bermain, anak itu lantas membalikkan gawang. “Aku kuat, kan?” tanyanya sambil menunjukkan hasil perbuatannya dengan bangga ke saya.
Mungkinkah anak ini sedang mencari perhatian? Saya kembali menatap berkeliling. Mencoba mencari sosok orang tua si anak, namun gagal.
Tak lama, seorang anak perempuan masuk ke arena bermain. Kedua orang tuanya tampak sedang mengobrol di bangku panjang di luar arena bermain.
Sama seperti yang dilakukan pada Ihsan tadi. Si anak laki tadi langsung merebut semua mainan yang dipegang oleh anak perempuan yang baru masuk. Tapi anak perempuan itu tak mau mengalah begitu saja. Mereka berkelahi dan saling pukul. Sampai akhirnya si anak perempuan menangis.
Orang tua anak itu langsung masuk, dan menggendong anaknya yang sedang menangis. Si Mbak penjaga pun langsung masuk, tapi bukan untuk menenangkan. Dia memarahi si anak laki tersebut. Apalagi saat dia melihat berbagai ‘hasil kreatif’ anak tersebut pada mainan-mainan yang ada. Ada mainan yang terbalik, rodanya copot, balok-balok susun dan balok mengenal bentuk yang berantakan.
Saya rasa, anak itu tak sepenuhnya bersalah. Bukankah mainan di arena bermain memang untuk dimainkan? Jadi wajar rasanya, kalau berantakan.
Tepat saat itu, seorang ibu dengan tentengan belanjaan datang. Mbak penjaga yang sudah kesal, langsung mendatangi ibu itu.
“Itu anak Ibu, ya?” tanyanya.
“Iya. Kenapa?” si ibu balik bertanya dengan nada tak suka.
Lalu meluncurlah penjelasan dari Mbak penjaga, tentang anak itu yang mengobrak-abrik hampir semua mainan. Juga tentang perbuatannya yang membuat anak lain menangis.
Si ibu diam, tidak menjawab. Dia mengambil sendal anaknya, kemudian memanggilnya.
Melihat mamanya datang, wajah si anak terlihat gembira. “Mama…” serunya sambil merentangkan kedua tangan, bersiap memeluk sang mama.
Tapi saat si anak sudah dekat, si ibu melakukan sesuatu yang membuat jantung saya berhenti berdetak.
“Plak! Plak!”
Si ibu menampar anaknya dengan sendal sebanyak dua kali! Kami semua terdiam. Hanya tangisan si anak yang langsung pecah.
Tak cukup sampai di situ, si anak terus dicubiti selama memakai sandal. Lalu sebuah sentakan kasar menyeret anak itu menuju escalator.
Kami semua masih mematung. Di samping saya, Ihsan menggenggam tangan saya begitu erat. Orang tua anak perempuan yang menangis tadi, menyesalkan sikap Mbak penjaga yang melaporkan perbuatan si anak.
Saya tak habis pikir, bagaimana mungkin ada ibu yang tega berbuat seperti itu? Bukankah meninggalkan anak sendirian di arena bermain untuk berbelanja, sudah merupakan sesuatu yang salah? Kenapa harus ditambah dengan memukul si anak?
Ini arena bermain, bukan penitipan anak. Tak seharusnya anak ditinggal sendirian tanpa pengawasan. Bagaimana kalau sang anak hilang atau diculik?
Saya mulai mengerti kenapa anak tadi selalu merebut mainan yang dipegang temannya. Bagaimana mungkin seorang anak berkelakuan baik, jika orang tuanya mendidik dengan cara yang tak baik?
Tiba-tiba saya merasa kasihan terhadap anak laki tadi. Lalu kembali teringat, bagaimana dia mencoba mencari perhatian dan mengajak saya bermain.
Perlahan, saya mengusap kepala Ihsan. Tuhan, beri saya kesabaran yang banyak. Saya tak ingin menjadi ibu yang seperti itu.
=0=

4 responses to ““Sabar”, Tulisan Saya di Rubrik Gado-Gado

  1. Mbaaaakk…. Bagus2 banget tulisan kamuuuu… Pantesan bisa dimuat di majalah sekeren Femina 🙂

  2. Setuju mbak, karakter anak memang tidak terlepas dari cara mendidik orang tuanya..kasian anak itu, kayaknya butuh perhatian lebih dari orang tuanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s