“Hujan Tak Menyebalkan”, Cerpen Anak Karya Saya di Kompas Anak

Entah kenapa, tapi kalau ada cerpen yang dimuat di Kompas Anak tuh, rasanya senaaang banget.
Seperti cerpen satu ini, yang berjudul “Hujan Tak Menyebalkan”.
Bercerita tentang apakah cerpen ini? Silakan dibaca saja. 🙂

image

Hujan Tak Menyebalkan
Oleh Anisa Widiyarti

Sejak dulu, Robin memang tak suka dengan hal-hal baru. Tapi sekarang, semua yang berada di sekitarnya serba baru. Rumah baru, sekolah baru, dan teman baru. Tak cukup dengan itu, hujan seakan membuat semuanya bertambah menyebalkan.
“Namanya aja Kota Hujan, ya setiap hari hujan, lah.”
Robin melirik Kak Nita. Dia juga tahu kalau Bogor adalah Kota Hujan. Masalahnya, kenapa harus ke kota ini keluarga mereka pindah.
“Uang kita nggak banyak, Bin. Kalau memaksa beli rumah di Jakarta, ukurannya kecil sekali. Nggak akan cukup untuk kita berempat,” jelas Ibu saat Robin mengeluh.
Robin tahu, sejak usaha ayah bangkrut, semuanya berubah. Rumah besarnya berubah menjadi rumah kecil. Tak ada mobil, tak ada uang jajan yang banyak. Semuanya serba sederhana. Bahkan ibu harus berjualan nasi uduk sekarang.
“Ibu nggak apa-apa, kok. Jualan nasi uduknya kan, di depan rumah,” ucap ibu di pagi itu, setelah melayani empat bungkus nasi uduk untuk Bu Dawiyah.
“Lagi pula, kita kan jadi bisa sarapan nasi uduk terus,” sambung Kak Nita sambil mengerling.
Robin tak habis pikir dengan kakaknya itu. Bagaimana Kak Nita bisa terlihat menikmati semua perubahan ini? Robin memang tak pernah protes masalah sarapan dengan nasi uduk. Toh nasi uduk buatan ibu memang enak. Masalahnya…
“Hujan?” tebak Kak Nita. “Kenapa sih, sama hujan?”
“Basah,” jawab Robin sekenanya.
Entahlah, dia memang tak pernah suka melihat langit biru yang berubah menjadi gelap, kilat yang menyambar, dan tanah yang becek. Belum lagi kalau banjir.
Robin sudah bersiap untuk ke sekolah. Dia yakin, kali ini pun ibu akan mengingatkannya untuk membawa payung.
Nggak akan! Begitu tekad Robin. Masalahnya, dua payung yang mereka punya semuanya bermotif bunga. Apa kata teman-temannya nanti? Apalagi si Ujang, teman barunya yang usil itu. Pasti dia akan berkata, “Wah, Robin Hood meuni romantis, euy. Payungnya gambar bunga.”.
Huh! Memiliki nama Robin saja, sudah membuatnya malu. Apalagi kalau harus ditambah memakai payung seperti itu.
“Robin, kamu bawa ini, ya.”
Nah, benar, kan? Robin memanyunkan bibirnya. “Nggak mau.”
“Jangan begitu, dong. Sudah dua hari ini kamu kehujanan terus. Nanti bisa-bisa kamu sakit,” rayu ibu.
Robin memerhatikan benda yang dipegang ibu. Payung itu bukan hanya bermotif bunga, tapi ukurannya … ya ampun! Besar sekali!
“Payung yang kecil mana, Bu?”
“Sudah dibawa Kak Nita tadi.”
Robin bertambah manyun. Huuh! Mana ada anak laki yang mau memakai payung sebesar ini? Ukurannya persis seperti yang biasa dipakai penjual gorengan.
“Hari ini nggak akan hujan, Bu,” elak Robin. “Lihat, langitnya cerah.”
“Kemarin juga begitu. Tapi saat sore, hujan turun deras, kan?”
Robin mengangguk. Ya, benar. Ini kan, Bogor. Cerah di pagi hari, bisa saja hujan di sore hari. Bahkan cerah saat ini, bisa jadi setengah jam kemudian hujan turun.
Bukankah ini Kota Hujan? Robin selalu merasa ada yang aneh dengan kota ini. Hujan seperti menjadi agenda harian di sini.
Akhirnya, Robin membawa payung itu. Dia tak tega pada ibu yang terus menerus merayu. Meski tentu saja, dia membawanya dengan berat hati.
***

Entah dari mana datangnya awan-awan hitam itu. Saat Robin akan pulang, hujan turun dengan deras. Seperti yang Robin pikirkan tadi, ini Kota Hujan.
Robin membuka payungnya. Astaga, benar-benar besar ukuran payung itu! Robin tak habis pikir, dari mana sih, ibunya bisa mendapatkan payung sebesar itu?
Robin melangkah cepat-cepat. Ia tak ingin menjadi pusat perhatian dengan payung besarnya. Tapi tiba-tiba, terdengar suara Ujang memanggilnya.
“Robin Hood, udah mau pulang?”
Robin meliriknya dengan tatapan tak suka. “Namaku Robin Wijaya bukan Robin Hood,” ucapnya dengan tegas.
“Eh, maaf. Habis nama kamu susah diingat. Aku ingatnya Robin Hood,” jawab Ujang dengan kikuk.
Robin terdiam. Dia tak mengira kalau Ujang memanggilnya begitu karena namanya sulit diingat. Alasan yang aneh, memang. Namanya kan, hanya terdiri dari lima huruf. Tapi sudahlah, setidaknya Robin kini tahu kenapa anak itu selalu memanggilnya dengan sebutan Robin Hood. Dia kira, selama ini Ujang berniat mengejeknya dengan panggilan itu.
“Kamu sendirian aja?” tanya Ujang lagi.
“Iya.”
“Barengan, atuh….”
Robin terdiam sesaat.
“Payung kamu itu, bisa muat dipakai berlima,” ucap Ujang lagi.
Robin akhirnya mengangguk. Saat itu juga, entah dari mana datangnya, ada tiga orang teman sekelasnya yang tiba-tiba menyerbu sambil bersorak.
Ucapan Ujang benar. Ternyata payung itu memang muat dipakai berlima. Tak lama kemudian, kelima anak di bawah payung itu sudah asyik mengobrol.
Sore ini, Robin bisa tersenyum menghadapi hujan. Meski badannya sedikit basah, tapi dia mulai menyukai hujan. Robin juga mulai menyukai teman-temannya.
Ternyata, hujan tak begitu buruk. Pun dengan memakai payung besar. Buktinya, karena hujan dan payung itu dia malah bisa akrab dengan teman-temannya. Ah, hujan memang tak menyebalkan.

=0=

6 responses to ““Hujan Tak Menyebalkan”, Cerpen Anak Karya Saya di Kompas Anak

  1. bagus banget mba karyanya

  2. aduh aku suka sekali Kak
    sederhana tapi mengena

    salam kenal kak

  3. Pantas dimuat di Kompas, soalnya keren banget! Salam kenal, Mbak!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s