“Memendam Dendam”, Cerpen Saya di Kompas Anak

Beberapa teman menyukai cerpen anak berjudul “Memendam Dendam” ini. Salah satu cerpen anak karya saya yang dimuat di Kompas Anak.
Silakan dibaca ceritanya, dan semoga suka. 🙂

image

Memendam Dendam
Oleh Anisa Widiyarti

Sudah tiga hari ini, Raka, teman semeja Fikri sakit. Teman-teman berencana untuk menjenguknya setelah pulang sekolah nanti. Menurut surat keterangan, Raka sakit typus.
Kemarin, mereka mendapat kabar bahwa Raka dibawa ke rumah sakit. Jadi saat ini, Raka masih dirawat di RSUD wilayah setempat.
“Jadi, siapa saja yang mau ikut menjenguk Raka?” tanya Ramzi, si ketua kelas.
Nadin, Alya dan Ihsan segera menghampiri. Mereka ingin ikut menjenguk Raka.
“Lho, kamu nggak ikut menjenguk, Fikri?” tanya Ramzi lagi saat dilihatnya Fikri tetap duduk.
Fikri menggeleng. “Nggak, ah,” jawabnya singkat.
Sebenarnya, ada rasa kesal yang Fikri pendam terhadap Raka. Sekitar dua bulan yang lalu, Fikri juga sakit. Banyak teman yang menjenguknya. Tapi saat itu, tak dilihatnya Raka. Padahal, Fikri sangat berharap Raka menjenguknya. Bahkan, dia yakin sekali kalau Raka akan datang, tapi nyatanya tidak.
Ketika Fikri masuk sekolah, Raka juga tak meminta maaf karena tak menjenguknya. Dia langsung menyapa saja, seolah tak punya salah.
Sejak saat itulah Fikri kesal terhadap Raka. Menurutnya, Raka bukan teman yang baik. Seorang teman, pasti akan mengunjungi temannya yang sedang sakit.
Saat pelajaran usai, Bu Guru membuat sebuah pengumuman. Sebenarnya, semua murid sudah tahu isi pengumuman itu. Setiap ingin menjenguk teman yang sakit, Bu Guru akan menjelaskan berapa banyak uang kas yang diambil. Uang kas itu nantinya digunakan untuk membeli buah tangan saat menjenguk.
“Anak-anak, hari ini, Ibu dan beberapa orang teman kalian akan menjenguk Raka. Untuk itu, kita akan menggunakan uang kas sebesar Rp. 50.000,-. Nantinya, uang itu akan digunakan untuk membeli oleh-oleh,” ucap Bu Guru menjelaskan, yang disambut anggukan setuju oleh semua murid.
Setelah mengucapkan salam, semua murid ke luar kelas. Tentu saja, kecuali murid yang ingin ikut menjenguk. Mereka akan berkumpul dulu, lalu berangkat bersama Bu Guru.
Saat itulah Fikri mendengar pertanyaan yang sama. Hanya saja, kali ini dari Bu Guru.
“Lho, Fikri tidak ikut menjenguk?”
Fikri membalikkan badannya. Dipandangnya sebentar Bu Guru dengan pandangan kikuk, kemudian menggeleng.
“Ooh…” ucap Bu Guru dengan kening berkerut.
Fikri terus berjalan meninggalkan ruang kelas. Saat sampai di pintu gerbang, dia bertemu dengan Anto.
“Bareng, yuk!” ajak Fikri sambil berjalan di sebelah Anto.
Anto tampak terkejut, keningnya berkerut. “Kamu nggak ikut menjenguk?”
Kini giliran Fikri yang kaget, atau tepatnya kesal. Seharian ini, dia mendapat pertanyaan yang sama sebanyak tiga kali. Kenapa sih, semua menanyakan hal itu?
“Nggak, aku malas,” jawab Fikri akhirnya. Sekilas, dilihatnya wajah Anto yang kembali terkejut. Tapi tak dipedulikannya. Akhirnya, mereka berdua berjalan dalam diam.
Saat sampai di perempatan jalan, tiba-tiba Anto berhenti.
“Fikri, kamu sudah tahu, kan? Kalau pastel yang kami bawa waktu kamu sakit itu, adalah pemberian dari Raka.”
Fikri terperangah, mulutnya menganga. Sedetik kemudian, dia menggeleng.
“Oh, aku kira sudah ada yang memberitahu padamu,” ucap Anto dengan nada menyesal.
“Kalau begitu, kenapa Raka nggak ikut menjenguk?” tanya Fikri yang masih merasa kesal.
“Hari itu, ibunya Raka sedang sakit. Jadi dia buru-buru pulang, karena harus menjaga adiknya.”
Fikri terdiam. Pikirannya dipenuhi dengan bayangan Raka. Sudah dua bulan ini, sikapnya terhadap Raka sangat buruk dan ketus. Samar-samar, Fikri mengingat lagi pertanyaan Ramzi, Bu Guru, dan Anto. Kamu nggak ikut menjenguk?
=0=

2 responses to ““Memendam Dendam”, Cerpen Saya di Kompas Anak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s