Cerpen Remaja Karyaku, “Kriwil Terkiwil-Kiwil”

Rasanya sudah lamaaa sekali saya nggak menulis cerpen remaja. Sekitar setahun ini, saya memang jatuh cinta pada tulisan untuk anak-anak.
Berikut ini adalah salah satu cerpen remaja karya saya yang dimuat di Majalah Story, berjudul “Kriwil Terkiwil-kiwil”. Sayangnya, majalah Story sudah nggak ada lagi. 😦
Tapi seenggaknya, sudah 2 kali cerpen saya dimuat di majalah ini. Dan sudah 2 kali pula cerita mini saya dimuat.
Silakan dinikmati cerpen remaja karya saya. 🙂

image

Kriwil Terkiwil-kiwil
Oleh Anisa Widiyarti

“Hiiih! Sumpah, gue kesel banget. Gimana sih caranya biar rambut gue oke?” Intan bersungut-sungut menatap kembarannya di dalam cermin. Entah sudah berapa kali ia merapikan rambut keriting kakunya itu. Tapi semakin dirapikan, si rambut malah semakin berontak. Kalau aja itu rambut bisa ngomong, dia pasti sudah berteriak, “Let me go… Let me go…!”
“Maaf ya, Tan. Tapi, gue cuma tertarik sama cewek yang rambutnya panjang tergerai, hitam, halus, rapi, nggak kaku kayak rambut lo.”
Kata-kata Wisnu kembali bermain di ingatannya. Iiih, dalem banget nggak sih? Lagian, siapa juga coba yang pingin punya rambut kaku nggak bisa diatur kayak gini?
“Udah coba lo rebonding, Tan?”
Intan melirik ke pemberi usul. Barusan tadi Echa, sahabat karibnya.
“Yaelah, Cha…. Dikata udah enam kali gue rebonding, tetap aja ini rambut nggak bisa rapi,” Intan kembali manyun, cemberut. Sepertinya memang tak ada harapan lagi.
“Ya…. Mau gimana lagi, Tan? Emang udah bawaan rambut lo begitu kali.”
“Tapi masalahnya, Wisnu tuh cuma suka sama cewek yang rambutnya panjang, lurus, hitam and rapi…”
“Ya lo ganti cowok aja, ngapain suka sama cowok yang pemikirannya sempit. Suka sama cewek kok, cuma ngelihat dari rambutnya aja?”
Intan mengerutkan keningnya. Sesaat mencoba mencerna kata-kata Echa. Maklum, doi rada lemot kalau loading.
“Nggak bisa, Cha… gue udah cinta mati ama doi…”
“Ya elo sih, cinta mati sama cowok kayak gitu. Seharusnya, dia bisa lihat elo dari sisi yang lain. Lagi pula, rambut keriting kaku lo ini cocok banget sama muka lo. Kalo dipaksa jadi lurus, malah aneh, nggak cocok sama muka lo.”
Mendengar kata-kata Echa, Intan malah jadi semakin murka. Kenapa sih dia nggak punya rambut hitam, panjang and lurus seperti rambutnya Ratih?
“Oh Tuhan, di mana letak keadilan?”
“Di Depok Timur, naik Miniarta kalau mau kesana…”
Intan menatap Echa bingung. Sedetik kemudian, sebuah bantal mendarat tepat di kepala Echa.
“Uuuh, dasar resek! Nggak solider banget, sih? Teman lagi sedih bukannya dihibur, malah diledekin.”
“Lha, kan elo tadi nanya di mana letak keadilan, ya gue jawablah.”
Intan mendengus kesal, sementara Echa malah terus tertawa tanpa dosa.
***
Intan berjalan dengan langkah gontai. Tatapannya kosong bagai tiada harapan. Rasa tak bersemangat sudah terlihat dari wajah suramnya. Di sampingnya, Echa berjalan sambil berpikir, cara apa yang bisa dia sarankan untuk membantu masalah sohibnya ini.
Tapi tiba-tiba, langkah Intan terhenti.
“Heh, kenapa kok berhenti?”
“Itu…” Intan menunjuk ke sepasang muda-mudi yang tengah mengobrol di depan mading.
Itu Wisnu dan Ratih. Wisnu terlihat berbicara penuh perasaan, sementara Ratih terlihat tertunduk malu.
“Iih, ngapain tuh? Jangan-jangan Wisnu keburu nembak Ratih lagi. Huh, gara-gara rambut keriting mengembang gue yang susah diatur, nih.”
“Yeee, orang yang nembak, rambut yang disalahin. Gimana rumus FPBnya?”
“Heh? Nggak sinus cosinus tangen sekalian?”
“Bodo, ah…”
Echa ngeloyor, meninggalkan Intan yang masih bingung apa hubungan FPB sama orang yang menyatakan perasaan cinta. Tapi…. Eh, eh, itu si Echa ngapain malah ngedeketin Wisnu sama Ratih?
Tergopoh, Intan mengikuti langkah-langkah kaki Echa. Mereka berhenti di sebuah kursi panjang yang terbuat dari kayu. Berpura-pura duduk untuk mendengarkan percakapan Wisnu dan Ratih.
“Ratih, kamu mau nggak pulang sekolah ntar aku anterin pake motor baruku?”
Ratih masih tertunduk, tapi bibirnya menyunggingkan senyum.
“Iiih, sok jual mahal banget sih…” batin Intan penuh emosi.
“Maaf, aku nggak bisa.”
Heh, nggak salah dengar nih? Intan mempertajam pendengarannya. Khawatir kalau dia salah dengar.
“Yaah, emang kenapa?”
“Aku masih ada perlu sama teman-teman Rohis.”
“Mmm, aku tungguin ya?”
“Nggak usah, kayaknya sampai sore, deh.”
“Ow gitu, ya udah deh kalau begitu. Mungkin lain kali, ya?”
Yes, yes!!! Intan bersorak di dalam hati. Saat Ratih meninggalkan Wisnu, senyumnya kian melebar.
“Wisnu….!” Bergegas Intan menghampiri cowok yang selalu dimimpikannya itu.
“Ada apa?”
“Kalau Ratih nggak mau, aku mau kok dianterin pulang sama kamu.”
Wisnu terdiam. Sesaat, dipandanginya rambut keriting mengembang milik Intan. Selanjutnya…
“Mmm, lain kali aja deh, Tan. Kalo rambut lo udah rapian dikit.”
Huhuhu, sakkkiiiit….! Raga Intan sih terlihat baik-baik saja. Tapi hatinya, remuk, hancur berkeping-keping.
Di belakangnya, Echa memandangi dengan penuh rasa iba. Berharap seandainya dia bisa membantu.
***
“Tan, gue denger ada alat yang bisa bikin rambut lo lurus, lho…”
“Hah, sumpe lo, Cha?”
“Yaelah, masak gue bohong, sih.”
“Alatnya kayak gimana?”
“Itu lho, yang ada iklannya di tv. Yang ada orang rambutnya jegrak tapi pakai alat itu bisa lurus.”
“Ow, yang itu! Gue tau, tuh.”
“Tapi masalahnya…”
“Kenapa? Takut rambut jadi kering ya? Tenang, kan sekarang ada vitamin rambut.”
“Bukan itu masalahnya.”
“Terus?”
“Itu alat kan mahal, Tan…”
“Emang mahal, sih. Tapi dari pada gue ngabisin duit buat rebonding yang nggak ada hasilnya?”
Suasana hening. Dua sohib ini larut (jiaah, gula di dalam air, kaliii) dalam pikiran masing-masing. Yang satu berpikir kalau dia harus merelakan tabungannya hanya untuk membeli sebuah alat, sementara yang satu lagi berpikir kalau sahabatnya nggak akan lagi mentraktir, karena semua uangnya sudah habis. Ckckck.
“Cha, dengan penuh pertimbangan yang matang, usul lo gue terima,” ucap Intan bak ketua MPR memutuskan rapat.
Mendengar itu, Echa langsung nyengir. Merasakan dua sensasi sekaligus. Senang karena sarannya diterima, sekaligus sedih karena kemungkinan sebulan ke depan hidupnya akan merana dan penuh penghematan.
***
“Ma, Mama cantik deh…” ucap Intan dengan wajah sok imut.
Mama melirik. Tak sudi membalikkan badan. Sudah hapal dengan perilaku sang anak. Tak mungkin pujian itu jujur dan tulus.
“Hmm, pasti ada maunya,” batin si mama sambil menaikkan satu alisnya.
“Ma, Intan mau ngomong, nih.”
Nah, tuh kan benar? Baru dibatin lima detik yang lalu, sekarang sudah terbukti secara sah dan meyakinkan.
“Mau ngomong apa?” pertanyaan bernada datar. Tidak ada rasa ingin tahu di dalamnya. Karena si mama sudah sangat tahu, pasti ini nggak akan jauh-jauh dari urusan duit.
“Mmm, kan rambut Intan kaku ni, Ma. Intan pingin rambutnya jadi lurus, bagus and rapi. Pokoknya, yang bisa tergerai mempesona gitu lho, Ma.”
“Lho, bukannya rambutmu ini sudah sangat mempesona? Jarang-jarang lho, ada orang yang punya rambut seperti yang dimiliki keluarga besar kita. Rambut keriting mengembang. Membuat wajah kita terlihat semakin imut karena kontras dengan bentuk rambut yang mengembang.”
Intan manyun melihat sang mama malah membanggakan rambut mereka. “Iih, Mama. Apanya yang mempesona sih, rambut jegrak kayak gini? Intan kan malu, Ma….”
“Eeeh, kamu nggak boleh ngomong kayak gitu dong, honey. Ini rambut ciri khas keluarga besar kita. Coba kamu lihat! Oma, tante, om, mama semuanya berambut seperti ini, dan kamu termasuk yang terpilih untuk memiliki rambut seperti kami. Ini warisan, honey.”
“Tapi Intan nggak suka, Ma,” Intan mendengus.
“Terus maunya kamu apa?”
“Intan mau… mau… beli alat buat ngelurusin rambut kayak yang di tv itu lho, Ma.”
“Ya kamu beli aja.”
Duh, si mama. Nggak peka amat, sih? Padahal sang putri sudah berwajah memelas penuh harapan sejak tadi.
“Masalahnya, duit Intan nggak cukup, Ma.”
“Terus?”
“Mama tambahin, ya?”
“Nggak akan, ya. Mendengar rencana kamu yang mau mengubah identitas kebanggaan keluarga besar kita aja, Mama udah nggak setuju. Apalagi harus nambahin? Huh, nggak akan!”
“Iih, Mama jahat banget, sih?”
“Ini bukan jahat, honey. Ini tegas namanya.”
“Huh!” Intan kembali memanyunkan bibirnya. “Ya, udah. Kalo gitu, Intan nggak akan makan sampai Mama mau memenuhi permintaan Intan.”
Intan segera berlari menaiki anak tangga. Tak dihiraukannya mama yang terus berteriak memanggil namanya “Intan…tan…tan…tan…” (ini rumah apa goa sih? Kok ada ‘echo’nya.). Intan terus berlari, berlari, hingga hilang pedih peri. Lalu berakhir dengan sebuah suara bantingan di pintu kamar. “BRUKKK!!!”
Mama beristighfar. Menggelengkan kepala, mengelus dada. Kelakuan anak zaman sekarang ternyata seperti itu ya? Beda dengan kelakuannya di masa remaja.
“Oke, Intan. Kita lihat, berapa lama kamu tahan untuk nggak makan,” gumam si mama sambil tersenyum jahat mirip mama tirinya Cinderella.

Malamnya,
“Wah, luar biasa si Mama. Hidangannya meuni  kumplit pisan. Ada apa ini? Seingat Papa, nggak ada yang ulang tahun kan hari ini?’
“Nggak ada yang ulang tahun kok, Pa. Mama cuma lagi ingin masak enak aja,” jawab mama sambil tersenyum manis.
“Lho, Intan mana, Ma?”
“Ada di kamarnya. Tolong dong, Papa panggil dia. Sekalian bilang kalau Mama masak pepes jamur sama ayam bakar, lengkap sama lalapan dan sambal terasi.”
“Oke, Ma.”
Papa bangkit dari duduknya. Berjalan dengan pasti ke kamar anaknya. Tak ada sedikit pun kecurigaan kepada sang isteri yang tiba-tiba memasak makanan enak. Karena biasanya, menu makan malam nggak jauh dari telur dadar dan sambel kecap. Si mama malas, euy.
“Intan, turun dong. Makan malam udah siap, tuh. Mama masak pepes jamur sama ayam bakar, ada lalap dan sambalnya juga, lho,” ucap papa dengan penuh sayang pada anak semata wayang. Tapi, apa gerangan jawaban yang didapatnya?
“Pokoknya Intan nggak mau makan sampai kemauan Intan dituruti!!!”
“Lho, ada apa ini?”
Si papa turun tangga dengan langkah tak sesemangat tadi. Diliriknya sang isteri penuh curiga, “Huh, pantesan masak enak. Ternyata ada apa-apanya.”
Akhirnya, malam itu juga papa mencoba menyelesaikan permasalahan yang terjadi. Setelah sebelumnya bertanya pada mama tentang masalah yang tengah menimpa sang putri. Papa mencoba berbicara dengan Intan dari hati ke hati. Tapi tentu saja, setelah menghabiskan dua piring nasi plus dua potong ayam bakar, sebungkus pepes jamur beserta lalap dan sambalnya.
“Emangnya, apa sih yang bikin kamu malu?” tanya papa membuka percakapan yang seharusnya hanya empat mata menjadi enam mata. Karena Echa tiba-tiba saja datang bertamu. Sebenarnya nggak tiba-tiba sih, karena Intan ternyata meneleponnya.
“Intan suka sama cowok, Pa. Tapi dia maunya kalau rambut Intan lurus, rapi, nggak jegrak kayak gini.”
“Ow, gitu. Papa bisa memahami. Tapi seharusnya, kamu mencari cowok yang bisa menerima kamu apa adanya, dong.”
“Saya udah bilangin, Om. Tapi si Intannya ngeyel. Katanya udah terlanjur cinta sama cowok itu,” ucap Echa memberi penjelasan.
“Hmm…” si papa manggut-manggut. “Memang, di zaman sekarang ini, susah sekali mencari sosok pria sejati seperti papa yang mau menerima wanita dengan apa adanya.”
Intan dan Echa berpandangan.
“Ya sudah kalau begitu, nanti biar papa yang menambahkan kekurangan uang untuk beli alat itu.”
“Yeee! Makasih ya, Pa.” Intan melonjak bahagia. Dipeluknya sang papa dengan penuh sayang.
Papa pun pergi meninggalkan sang putri bersama sahabatnya. Ada perasaan lega karena masalah di rumah sudah berhasil diselesaikannya dengan penuh perhitungan, tanpa jatuh korban. Kalau pun ada, paling-paling cuma angka di rekeningnya yang sedikit berkurang. Bukan masalah yang berarti.
Sementara itu di dalam kamar,
“Tan, bokap lo narsis ye?”
***
Ini hari yang luar biasa spesial bagi Intan. Apalagi penyebabnya, kalau bukan rambut jegraknya sekarang sudah lurus, rapi dan memesona. Setelah memakai alat yang kemarin dibelinya, rambut Intan memang benar-benar lurus. Dia tak menyangka kalau akhirnya dia bisa memiliki rambut yang memesona melebihi rambut milik Ratih.
Tapi meski impiannya telah terwujud, toh Intan masih merasa ada yang salah saat menatap cermin.
“Kok, gue kayaknya jadi aneh, ya?”
“Aneh kenapa?” Echa menimpali asal sambil menikmati roti bakar yang sebenarnya adalah jatah sarapan Intan.
“Kayaknya rambut gue nggak matching deh ama muka gue.”
“Mungkin, karena selama ini lo terbiasa ama rambut lo yang mengembang, jadi lo berasa agak aneh. Dalam beberapa hari, lo bakal terbiasa, kok.”
“Ow, gitu ya?”
“Iya. Makanya sekarang buruan jalan, biar kita nggak terlambat. Nggak lucu kan, kalau udah dandan cantik kayak gini tapi harus kena hukuman gara-gara terlambat?”
Intan setuju. Bergegas diambilnya tas bergambar kartun jepang kesayangannya. Tak lupa diciumnya pipi dan tangan kanan mama dan papanya. Ini hari baru untuknya. Hari ini pasti akan sangat istimewa. Intan sudah tak sabar melihat reaksi Wisnu saat melihat rambut barunya.
***
“Wisnu…!” teriak Intan saat sosok cowok itu tertangkap oleh matanya.
Si cowok membalikkan badan, lalu mengerutkan kening. “Siapa ya?”
“Ini gue, Intan. Masak lo lupa sih?”
“Oh, Intan. Wah, rambut lo udah berubah, ya?”
“Demi memenuhi keinginan lo, gue rela ngerubah rambut gue. Dan sekarang lo lihat, rambut gue udah lurus, rapi, indah mempesona. Gue yakin, rambut Ratih pasti kalah keren dibanding rambut gue.”
Mendengar ucapan Intan, raut wajah Wisnu berubah menjadi tak bersemangat. “Sory, Tan. Tapi gue rasa, lo nggak akan bisa menyaingi Ratih. Meskipun gue juga nggak akan bisa memiliki dia.”
“Eh, lo ngomong apa, sih? Biar gue bawa Ratih kesini. Biar lo bisa bandingin, siapa yang rambutnya paling keren di antara kita berdua.”
“Ayo, Cha.” Intan menggandeng tangan Echa sambil melangkah pergi.
“Eh, mau kemana, nih?”
“Ke kelasnya Ratih.”
Sesampainya di kelas Ratih,
“Sory, Ratihnya udah datang belum? Gue mau ketemu, dong!” ucap Intan setengah berteriak, membuat seisi kelas menolehkan kepala ke arah pintu.
Tapi tak juga dilihatnya sosok Ratih. Ketika tiba-tiba,
“Intan cari aku?” ucap seorang gadis berjilbab dengan lembut.
Intan mengerutkan keningnya, mencoba mengenali sosok di depannya. Sampai akhirnya matanya terbelalak, “RATIH???”
*****

4 responses to “Cerpen Remaja Karyaku, “Kriwil Terkiwil-Kiwil”

  1. Lucuuuu banget nih cerpennya. Tengkiu mbak 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s