Menyerah Menjadi Penulis?

Saya pernah mengalaminya, menyerah. Atau tepatnya, hampir menyerah.
Betapa tidak? Bertahun-tahun saya menulis dan mengirimkan karya ke media, namun selalu penolakan yang saya terima.
2005, saya mulai suka menulis. Tentu saja, lama sebelumnya, saya sudah jatuh cinta terlebih dulu dengan membaca.
Dulu, mengirim karya bukanlah perkara mudah. Setelah diketik, naskah harus diprint. Lalu dimasukkan ke amplop, dan dibawa ke kantor pos untuk dikirim. Lumayan pegel kalau gak punya printer dan letak kantor pos cukup jauh. Bellum lagi biaya buat membeli amplop dan perangko. (Perhitungan banget! :p)
Waktu itu, saya memang belum fokus mengirimkan karya ke media. Hanya sesekali saja. Namun, jika terus menerus ditolak, sedih juga rasanya.
Dulu, saya suka menyemangati diri dengan berucap, “Mungkin naskahnya gak kebaca, nih.” atau “Jangan-jangan naskahnya gak kekirim ke alamat yang benar.”
Kenapa saya berucap demikian? Karena saya yakin sekali kalau naskah yang saya kirimkan saat itu bagus. (Ini nih, kepedean tingkat tinggi)
Apalagi, ketika suami saya yang baru sekali mengirimkan tulisan ke Majalah Info Linux, naskahnya langsung dimuat, lengkap dengan fotonya! Haduh, langsung deh merasa, “Apa emang nggak bakat menulis, ya?”. Pokoknya, langsung down banget! Hiks…
Baru pada tahun 2008 (Nah, berapa tahun tuh?), tulisan saya ada yang dimuat. Bukan koran ataupun majalah, tapi buku. Tulisan saya masuk di dalam buku “Catatan Hati di Setiap Doaku” bersama Mbak Asma Nadia. Luar biasa bahagianya saat itu.

image

Ketika buku ini terbit, saya sedang mengandung anak pertama. Bahkan, saya datang di acara launching buku ini dalam keadaan hamil 9 bulan.
Setelahnya, saya berhenti menulis. Mandeg. Bukan karena gak ada ide, tapi karena saya ingin fokus pada anak. Saya begitu senang mengurus Ihsan (anak pertama saya) dan bermain bersamanya.
Baru pada tahun 2010, ketika kewajiban ASI kepada Ihsan telah tuntas, saya mulai mencoba lagi masuk ke dunia penulis.
Namun, berbeda dengan sebelumnya yang langsung menulis, saya memutuskan untuk belajar terlebih dahulu.
Yup, tahun 2010 saya beri nama tahun belajar. Di tahun itu, saya bergabung dengan FLP Jakarta dan mengikuti setiap pertemuannya. Semua materi yang diberikan, saya simak dengan sangat baik.
Saya masih ingat ketika ada teman yang berkata, “Mbak Anis serius banget deh, kalau dengarin materi.”
Saat itu saya hanya tersenyum. Bagaimana tidak serius? Perjuangan saya untuk bisa sampai ke Masjid Amir Hamzah TIM tidaklah mudah. Saya harus mendapat exit permit, saya harus menitipkan Ihsan kepada Mama, dan saya harus memastikan keadaan rumah rapi dan terkendali.
Masa, setelah semua pengorbanan itu, saya malah main-main di saat materi diberikan? 🙂
Di FLP Jakarta, saya mendapat banyak pengetahuan tentang menulis. Saya juga mendapat banyak tips dan trik supaya tulisan dimuat di media. Dan tentu saja, saya jadi tahu kenapa tulisan saya dulu nggak dimuat. Ternyata banyak salah tanda baca dan penulisan, juga diksi yanh kurang kaya. (Hadeeeh… dulu pede amat, yak.)
Ada satu ucapan dari pemateri yang saya ingat, “Jangan menulis buku dulu, branding nama dulu dengan sering menerbitkan karya ke media. Jadi, saat menerima naskah kita, penerbit akan bilang, ‘oh, ini si anu yang cerpennya sering terbit di x’, dan bukannya bilang, ‘siapa elo ngirim naskah ke gue?’.” (Hihi, sakitnya di mana…?)

image

Maka, saya ikuti ucapan beliau. Saya kembali memasukkan naskah ke media. Saat itu, naskah bisa dikirim via email. Wah, lebih mudah dan gak repot.
Oh ya, karena 2010 adalah tahun belajar, jadi naskah yang saya kirim hanya coba-coba. Jadi betapa bahagianya saya, ketika ada cerpen saya yang dimuat di majalah Story (sekarang almarhum, hiks…) dan cerpen anak di Lampung Post.
Ketika tahun 2011, saya mulai menyerang media. Namun saat itu, saya sudah fokus ke bacaan anak. Saya juga mulai aktif di group Penulis Bacaan Anak, dan rajin mengikuti workshop penulisan yang diadakan group ini (kalau pas ada uang dan dapat exit permit).
Hati saya pun berbunga, ketika satu demi satu cerpen anak karya saya dimuat. Ada yang di Majalah Aku Anak Saleh, Kompas Anak, Majalah Berdi, Majalah Imut, Koran Berani, Berani Magz, dan Lampung Post.
Lalu, saya mulai bisa membeli sendiri buku-buku sebagai bahan bacaan dan membayar sendiri workshop menulis yang saya ikuti.
Sampai akhirnya, Allah membuka jalan. Satu naskah buku saya diterima di Qibla (imprint BIP). Yang membuat saya gembira, meskipun itu buku pertama saya, namun dibuat dengan sangat bagus. Saya benar-benar merasa gembira ketika buku “Yuk, Berperilaku Santun” terbit dan didisplay di berbagai toko buku besar.

image

Merasa jalan sudah terbuka, saya pun mulai menyerang penerbit dengan naskah. Tak hanya satu penerbit, tapi banyak penerbit. Saya kirimi mereka dengan naskah-naskah buku karya saya. Hingga akhirnya, satu per satu buku saya pun bisa terbit.
Sekarang, saya masih berjuang memasukkan naskah ke penerbit. Penolakan pun masih sering diterima. Namun seiring waktu, makin banyak yang mengenal saya, dan mulai ada penerbit yang menawari saya menulis buku.

image

Itulah sekelumit cerita saya. Hanya sekedar ingin berbagi, bahwa saya pun mengalami perjuangan yang berdarah-darah. Jadi, tidak langsung berada di posisi menerbitkan banyak buku. Ada jalan panjang yang harus saya lewati sebelum berada di posisi ini.
Kedepannya, saya berharap bisa terus menulis hal-hal baik, yang bukan hanya membuat pembaca gembira, namun bisa menjadi tabungan amal baik saya. Aamiin…

13 responses to “Menyerah Menjadi Penulis?

  1. Makasih sharingnya Mak. Sangat bermanfaat buat saya.

  2. Pengalaman yang panjang untuk bisa menerbitkan sebuah buku ya mbak…makasih sharingnya, bisa dijadikan pembelajaran bagi saya.

    • Perjalanan panjang, penuh perjuangan dan kesabaran.
      Tapi biasanya, orang cuma lihat pas udah jadinya aja.
      Makasih sudah berkenan membaca, Mbak Nurul. 🙂

  3. spesialis cerita anak ya? 🙂

  4. great, salam kenal ya Mbak Anisa

  5. Hety A. Nurcahyarini

    Hallo Mbak, apa kabar?
    Kita ketemu pertama di acara Sunday Sharing di kantor Detik.
    Ikut seneng baca cerita, Mbak.
    Inspiring banget.
    Ketularan semangat n nggak boleh gampang menyerah.
    Sehat dan sukses selalu, ya Mbak.
    \^^/

    • Halo, halo…
      Kabar saya baik, semoga kabar Mbak Hety juga baik. 🙂
      Terima kasih sudah berkenan membaca tulisan saya, dan alhamdulillah kalau bisa memberi manfaat.
      Aamiin, doa yang sama untuk Mbak Hety. 🙂

  6. Postingan yang inspiratif sekali 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s