Cerpen Anak Karyaku di Koran Berani

Ini adalah salah satu cerpen anak karya saya yang dimuat di Koran Berani. Cerpen ini dibuat menjadi cerbung. Jadi bisa mejeng di dua nomor, deh. 🙂

image

Alat Tulis Dodi

“Dodi, kamu punya PR, nggak?” tanya ibu dari dapur.
Dodi terdiam sebentar. “Hmm, lupa, Bu.”
“Lho, kok, lupa?” Ibu melongokkan kepala untuk bisa memandang Dodi yang sedang asyik menonton televisi. “Coba dicek dulu. Kalau ternyata ada, langsung dikerjakan, ya.”
Dodi menoleh. “Nanti saja deh, Bu. Sekarang mau menonton film kesukaan Dodi dulu,” ucapnya sambil kembali memandangi layar televisi. Saat itu, film tentang anak yang ingin menjadi pemain bola sedang ditayangkan.
Ibu menggeleng. “Kalau nanti-nanti, kamu keburu mengantuk.” Ibu mengingatkan lagi.
“Nggak akan mengantuk deh, Bu,” jawab Dodi yakin.
Akhirnya, ibu kembali melanjutkan pekerjaannya di dapur. Dodi sudah besar. Seharusnya, dia tak perlu diingatkan lagi untuk sesuatu yang menjadi kewajibannya. Tapi nyatanya, setiap malam ibu masih harus mengingatkan untuk belajar dan mengerjakan PR.
Tepat pukul sembilan malam, film kesukaan Dodi selesai. Dodi langsung ke kamarnya. Dia melihat lembar jadwal pelajaran di dinding, lalu memilihi buku yang akan dibawa besok. Saat itulah dia baru ingat kalau ternyata ada PR matematika.
“Waduh, bagaimana ini?” tanyanya pada diri sendiri.
Dodi langsung mengambil buku cetak matematika dan membuka halaman sesuai catatan di buku PRnya. “Ada sepuluh soal,” gumamnya.
Lalu dia pun mengeluarkan kotak pensil dan buku tulisnya.
“Trak,” kotak pensil dibuka. Sinar dari lampu kamar langsung menerangi dalam kotak tersebut. Di dalamnya, terdapat dua batang pensil, dua pulpen, satu penghapus, satu penggaris berukuran 20 cm dan satu tip ex.
“Aduh, ada apa ini?” ucap pensil yang terbangun dari tidurnya. Saat itu, dia sedang diambil oleh Dodi.
“Pasti pemilik kita baru ingat kalau dia punya PR.” Pulpen berwarna biru mencoba menjawab pertanyaan si pensil.
Pulpen berwarna hitam melirik. “Aku yakin, PR itu tak akan selesai dan dia keburu tertidur.”
Pensil yang belum diraut mengangguk. “Ya, dan besok dia akan dihukum.”
“Hei, kalian tidak boleh bicara seperti itu!” bentak pensil yang sedang digunakan Dodi. “Aku yakin, dia bisa menyelesaikan PRnya. Lihat, sekarang dia sedang mengerjakan soal nomor dua!” serunya senang.
Tapi ketiga temannya di dalam kotak hanya mencibir. Mereka ragu kalau Dodi bisa menyelesaikan PRnya. Bukankah sudah sangat sering hal seperti ini terjadi? Dan selalu berakhir dengan Dodi yang harus berdiri di depan kelas keesokan harinya.
Dodi sedang mengerjakan soal nomor empat sekarang. Sesekali, dia juga menggunakan penghapus dan penggaris. Seperti si pensil yang sedang digunakan, kedua benda itu pun merasa senang bisa membantu Dodi.
Tapi saat mulai mengerjakan soal nomor lima, Dodi berkali-kali menguap. Matanya sudah tak sanggup untuk melihat tulisan. Tentu saja, matanya sudah merah dan berair.
Pensil merasa sangat khawatir. Dipandanginya jam dinding. “Oh, pantas saja, sudah jam setengah sepuluh,” gumamnya sedih.
Tak lama kemudian, pandangan Dodi mulai mengabur. Lalu dia pun tertidur di meja belajarnya.
“Dodi, ayo bangun! PRmu belum selesai!” teriak pensil, penghapus dan penggaris. Mereka ingin Dodi bangun dan menyelesaikan PRnya. Tapi tak berhasil. Sepertinya, Dodi sudah sangat mengantuk.
Mereka masih terus memandangi Dodi, sampai akhirnya ibu masuk ke kamar. Ibu mengangkat Dodi ke tempat tidur, lalu memasukkan buku dan alat tulis yang berada di atas meja ke tas punggung milik Dodi.
“Semoga Dodi bisa bangun lebih pagi untuk menyelesaikan PRnya,” harap si pensil di dalam kotak.
“Dia tidak akan bangun pagi. Malah, kemungkinan akan bangun kesiangan,” ucap buku cetak matematika. “Sekarang, biarkan kami para buku mencoba tidur. Tas ini sangat kotor dan bau,” keluhnya.
Tas punggung mendesah. “Kalian pikir aku tidak kesal, menjadi kotor seperti ini? Pemilik kita tak pernah mencuciku,” gumamnya sedih. Lalu mereka pun tertidur.
Benar saja. Keesokan harinya, Dodi bangun kesiangan. Dengan terburu-buru dia mandi dan memakai seragam. Menyisir, memakai sepatu, lalu mengambil tas punggungnya secepat kilat. Dia bahkan tak sempat sarapan pagi ini.
Tepat saat Dodi sampai di depan kelas, bel tanda masuk berbunyi. Sehingga dia tak perlu dihukum karena terlambat. Tapi saat pelajaran matematika dimulai, wajah Dodi terlihat pucat.
Alat tulisnya memandangi dengan sedih. Pasti kali ini dia akan dihukum lagi oleh Pak Guru, pikir pensil yang biasa dipakai.
Benar saja. Saat Pak Guru tahu kalau Dodi baru mengerjakan setengah dari PRnya, beliau menyuruh Dodi untuk ke depan kelas. Selama pelajaran matematika, Dodi berdiri di sana sambil mendengarkan penjelasan Pak Guru. Sementara itu, alat-alat tulis Dodi tergeletak di atas meja dengan sedih. Mereka iri melihat alat tulis lain yang digunakan pemiliknya.
“Semoga Dodi bisa berubah menjadi lebih rajin,” gumam si pensil, yang disambut anggukan oleh teman-temannya.
=0=

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s