Melepas Anak di Hari Pertama Sekolah

image

Sekitar 2,5 tahun lalu, Ihsan, anak saya mulai bersekolah. Masuk TK A. Sebenarnya, saya kurang suka anak mulai sekolah saat usianya masih kecil. Namun saat itu, Ihsan tak memiliki teman yang seusia di lingkungan rumah. Setiap hari dia hanya  bermain dengan saya. Maka, saya dan suami memutuskan untuk menyekolahkannya saja agar dia bisa belajar bersosialisasi.
Hari pertama sekolah, justru saya yang lebih grogi dan khawatir dibanding Ihsan. Dia malah tampak senang dan tak sabar ingin bersekolah.
Sesampainya di sekolah, dia mau berbaris sendiri (beberapa anak harus ditemani ibunya saat berbaris). Saat masuk ke kelas, saya membisikkan sesuatu kepadanya, “Ummi nggak boleh di dalam, Ummi tunggu di luar, ya.”
Ihsan mengangguk sambil mengacungkan jempol.
Saya sangat bersyukur Ihsan tak takut. Padahal, selama ini bisa dibilang hanya “kenal” dengan saya. Saat itu, beberapa anak mulai merengek bahkan menangis. Mereka tak ingin ditinggal oleh sang ibu. Alhasil, beberapa ibu harus ikut duduk di dalam kelas.
Meski berada di luar, tapi saya mengintip kegiatan di dalam kelas melalui jendela. Saya melihat bagaimana Ihsan mengacungkan telunjuk saat ingin maju untuk bernyanyi. Saat ditanyakan nama, Ihsan juga menjawab tanpa takut.
Hari pertama berjalan lancar. Ihsan tampak gembira. Dia juga mencoba mainan-mainan yang ada di sekolah.
Hari kedua, sesuatu yang berbeda terjadi. Ihsan meminta saya untuk pulang saja.
“Ihsan berani,” katanya.
Duh, sedih sekali rasanya. Eh, bukan sedih sih, tepatnya terharu. Saat itu saya menyadari betapa waktu cepat berlalu. Anak laki-laki saya sudah besar dan berani.
Saya keluar kelas, tapi tak pulang. Saya “bersembunyi”. Seolah-oleh sudah pulang, padahal masih menunggu dan mengawasinya. Tak mungkin saya tega meninggalkan anak berumur 4 tahun yang bahkan baru ingat nama seorang temannya di kelas.
Saat “bersembunyi” itulah saya melihat, bahwa Ihsan memang berani. Bahkan terkadang, dia ingin “lebih menonjol”. Jika ditanya, “Siapa yang mau bernyanyi?”, atau “Siapa yang mau bercerita?”, Ihsan pasti mengangkat tangannya tinggi-tinggi sambil berteriak “Sayaaa…!”
Seperti di foto ini, Ihsan menjadi pembaca Janji Siswa saat upacara. Dia bahkan tak tahu kalau saya masih ada di sekolah dan memfotonya. Dia kira, saya sudah pulang sejak tadi. ๐Ÿ™‚

image

Namun, memang ada beberapa hal yang harus diperbaiki. Terbiasa bersama saya, Ihsan selalu mendapat perhatian penuh. Setiap ucapannya saya dengarkan dengan baik, setiap pertanyaannya selalu saya coba menjawab. Tentu Bu Gurunya tak bisa melakukan ini. Ada banyak anak yang juga harus diperhatikan.
Selama bersama saya, Ihsan selalu mendengar kata-kata halus dan sopan. Dia jarang keluar dan mendengar kata-kata bentakan atau makian. Maka, ketika dia menemukan ada temannya yang membentak, merebut mainan tanpa izin, menabraknya, atau menendangnya, Ihsan akan langsung marah. Dia ingin semua temannya baik, karena dia merasa selalu baik.
Hmm, ini nih yang masih harus saya ajarkan pada Ihsan. Saya harus mengajarkannya untuk mengendalikan emosi.
Selain itu, Ihsan juga termasuk tak tegaaan. Sering kali dia mengantri membeli jajanan di kantin. Saat sudah dapat, dan ada temannya yang meminta, dia memberikan semuanya dan kembali mengantri. Pernah juga dia menahan tangis karena ada teman yang memakan makanannnya sementara dia hanya memandangi.
Hihi…
Repot, kan? Siapa bilang mendidik anak mudah? ๐Ÿ™‚

2 responses to “Melepas Anak di Hari Pertama Sekolah

  1. Waaah mas Ihsan pinter yaa…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s