“Diko yang Serakah”, Cerpen Anak Karyaku di Koran Berani

Cerpen anak saya ini dimuat di dua nomor, dibuat sebagai cerita bersambung. Ingin membaca ceritanya?
Yuk, langsung aja. 😉

image

Diko yang Serakah

Anak laki-laki itu bernama Diko. Badannya gendut sekali. Ia memang sangat suka makan. Terutama brownies kukus buatan ibunya.
Suatu hari, ibu Diko membuat brownies kukus. Sejak kue itu dikukus, Diko sudah bisa mencium aromanya.
“Wah… brownies kukus ya, Bu?” tanya Diko setengah berlari ke arah dapur.
“Iya, benar. Tapi kali ini, kamu tidak boleh menghabiskan sendirian. Kamu harus membaginya dengan Chika.”
Diko merengut mendengar kata-kata ibu. Dia kesal, kenapa harus berbagi dengan Chika, adiknya? Padahal, dia bisa menghabiskan brownies itu seorang diri.
Diko duduk di sebuah kursi kecil sambil terus memandangi kompor. Ia sudah tidak sabar ingin segera memakan brownies tersebut. Sementara itu, Chika sedang asyik bermain masak-masakan di ruang keluarga.
Saat ibu mematikan kompor, Diko bersorak gembira. “Ayo, Bu. Cepat!” teriak Diko tak sabar.
“Iya, sabar sebentar. Ini masih panas. Biar ibu potong-potong dulu.”
Ibu Diko mengambil sebuah pisau kue. Lalu dengan hati-hati, dipotongnya brownies itu menjadi beberapa bagian.
“Sini Bu, biar Diko yang membawa,” ucap Diko sambil mengangkat kedua tangannya.
“Ini, tapi hati-hati. Jangan lupa, bagi adikmu juga, ya….”
“Baik Bu,” ucap Diko.
Padahal, di dalam hati, Diko memikirkan cara agar bisa memakan brownies itu sendirian. Maka dengan sembunyi-sembunyi, dibawanya kue itu ke kamarnya. Lalu, ia pun memakannya dengan lahap.
“Hmm, enak sekali…” kata Diko sambil terus memakan brownies kukus buatan ibunya. Mulutnya belepotan dan kedua tangannya sibuk memegang potongan-potongan brownies.
Sementara itu, dari luar kamar terdengar suara Chika yang menangis menanyakan brownies yang tadi dibuat ibu.
“Chika mau brownies, Bu…” ucap Chika.
“Lho, tadi sudah dibawa Kak Diko,” jawab ibu dengan bingung.
“Kok, Chika nggak dibagi?”
Ibu langsung mencari Diko ke kamar. Saat pintu kamar Diko dibuka, betapa terkejutnya ibu ketika melihat tempat kue yang sudah bersih. Tak ada satu potong pun brownies yang tertinggal.
Melihat brownies yang dicarinya sudah habis, kontan Chika langsung menangis. Ia merajuk minta dibuatkan brownies lagi.
“Ya sudah, jangan menangis. Nanti ibu buatkan lagi,” ucap ibu menghibur Chika.
Ibu dan Chika segera pergi, meninggalkan Diko sendirian di kamarnya. Sementara itu, Diko sama sekali tidak menyesali perbuatannya. Dia malah senang karena telah menghabiskan brownies itu.
Diko berbaring di tempat tidurnya. Tapi tiba-tiba, ia melihat ada seorang nenek di luar jendela kamarnya. Dengan segera, Diko menghampiri nenek itu.
“Halo, Nak. Kamu suka brownies kukus ya?” tanya si nenek dari luar jendela.
“Iya, suka sekali!” jawab Diko dengan mata berbinar.
“Ikutlah dengan nenek. Di rumah nenek ada banyak brownies kukus yang lezat.”
“Benarkah, Nek?” Diko sangat gembira mendengar ucapan si nenek. Maka dengan sembunyi-sembunyi, ia keluar rumah dan mengikuti si nenek ke rumahnya.
“Selamat datang di rumah nenek. Makanlah brownies-brownies ini sesukamu,” ucap si nenek saat mereka sampai di rumahnya, sambil memerlihatkan tumpukan brownies kukus.
Mendengar itu, Diko langsung berlari ke tumpukan brownies. Ia segera memakan dengan lahap brownies nikmat di hadapannya.
Dalam sekejap, satu loyang brownies sudah habis dimakan. Diko lalu bersiap mengambil brownies berikutnya. Sementara itu, si nenek terlihat sangat senang karena ada anak yang memakan brownies bikinannya.
Saat brownies di loyang kedua habis, Diko mulai merasa kenyang. Dia tak ingin lagi memakan brownies itu. Tapi melihat Diko berhenti makan, si nenek menjadi marah.
“Teruslah makan!” bentak si nenek.
Diko menggelengkan kepalanya. “Saya sudah kenyang,” ucapnya kemudian.
“Apa?! Jadi kamu tidak mau memakan brownies buatanku? Kamu harus tetap makan!” bentak si nenek sambil mengambil satu loyang brownies.
“Ayo, makan!”
Si nenek memasukkan potongan-potongan brownies dengan paksa ke mulut Diko. Sementara itu, Diko yang sudah kekenyangan, mencoba melawan.
“Tidak mau, tidak mau!” teriak Diko ketakutan. Tapi tiba-tiba saja, Diko mendengar suara ibu memanggil namanya.
“Diko, Diko!”
Diko membuka matanya perlahan. Ternyata dia masih berada di kamarnya. Jadi tadi ia hanya bermimpi. Diko ketiduran karena kekenyangan. Sesaat, Diko mengelap mulutnya yang masih belepotan.
“Bu, maafkan Diko, ya. Diko janji tidak akan serakah lagi. Diko mau berbagi sama Chika,” ucap Diko dengan nada ketakutan.
Sebenarnya ibu bingung kenapa tiba-tiba Diko berucap seperti itu, tapi ibu tersenyum mendengar anaknya yang sudah mau berbagi.
Nah, adik-adik, kalian mau berbagi juga kan?

6 responses to ““Diko yang Serakah”, Cerpen Anak Karyaku di Koran Berani

  1. Saya mau berbagi juga kakak, 🙂
    Keren deh, 10 jempol dah bwt emak

  2. Terima kasih mau berbagi Mbak, 🙂

  3. aku ceritain deh ke anakku sebelum tidur ntr 🙂 Dia paling hobi diceritain cerita2 gini mba..slama ini aku bacain dongeng anak2 yg bnyk dijual di gramed itu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s